INTERNASIONAL, Lokacita: Otoritas Pemerintah Rusia angkat bicara terkait penghentian transmisi ekspor gas ke Eropa melalui Ukraina sejak 1 Januari 2025.
Diketahui, Kiev menolak memperpanjang perjanjian antara Gazprom Rusia dan Naftogaz Ukraina serta Operator Sistem Transmisi Gas Ukraina.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Rusia, Maria Zakharova menuturkan, otoritas Ukraina menghentikan pasokan gas Rusia ke penduduk Eropa kendati secara kontrak, Gazprom memiliki kewajiban untuk tetap memasok gasnya.
“Langkah untuk menghentikan pasokan sumber energi Rusia yang kompetitif dan ramah lingkungan ini mengurangi potensi ekonomi Eropa dan sangat memengaruhi kualitas hidup warga Eropa,” kata Zakharova, Jumat (03/01/2025).
Zakharova mengatakan Jerman yang menjadi korban pertama dari langkah yang dilakukan Ukraina.
Menurutnya, negara tersebut akan dipaksa membeli gas alam dengan harga yang jauh lebih tinggi setelah ledakan jaringan pipa Nord Stream 1 dan Nord Stream 2.
Selain itu, ia juga mengatakan Jerman mulai menutup sejumlah fasilitas industri. Tak hanya itu, Zakharova juga menyebut beberapa negara Uni Eropa juga diperkirakan menanggung konsekuensi yang sama.
“Sekarang negara-negara lain yang pernah menjadi bagian dari Uni Eropa yang berkembang pesat dan independen juga akan menanggung konsekuensi dari sponsor AS,” ungkapnya.
Zakharova menyebut, keputusan Ukraina diduga dilatarbelakangi persoalan geopolitik yang turut didukung Amerika Serikat.
Dalam hal ini, ia menyebut AS dan Ukraina menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas dampak penghentian pasokan gas Rusia.
“Tanggung jawab atas penghentian pasokan gas Rusia sepenuhnya berada di tangan Amerika Serikat, rezim boneka Kiev, dan otoritas negara-negara Eropa yang lebih memilih dukungan finansial untuk ekonomi Amerika daripada kesejahteraan warga negaranya,” tutupnya.






