Sabtu, Juli 13, 2024
spot_img

Virus Nipah Kembali Menimpa India, Dirjen ICMR Sebut Wabah Ini Lebih Berbahaya Dari COVID-19

INTERNASIONAL, Lokacita: India, negara yang tercatat memiliki jumlah penduduk terbanyak ke-2 di dunia ini kembali digegerkan dengan virus nipah.

Virus nipah kembali ditemukan terjadi di wilayah Kerala. Wabah ini merupaka yang keempat kalinya dilaporkan terjadi di daerah tersebut sejak 2018 lalu.

Menurut informasi virus ini bahkan lebih berbahaya dari covid 19 yang menyebkan seluruh dunia kelabakan akibat pandemi.

Hal ini didasarkan dengan klaim Rajeev Bahl bahwa virus corona hanya memiliki tingkat kematian sebanyak 1-2%, sedangkan nipah punya presentase yang lebih tinggi yakni 40-70%.

Dilansir dari Detikhealth, pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers oleh Dirjen Dewan Penelitian Medis India (ICMR) Rajeev Bahl.

Dilansir dari websait Kemkes, virus Nipah tergolong dalam kelompok ilmiah Henipavirus dan termasuk dalam famili Paramyxoviridae.

Penyakit ini dapat tersebar dari berbagai jenis hewan, termasuk hewan liar maupun hewan peliharaan. Kelelawar buah merupakan bagian dari famili Pteropodidae sebagai inang alaminya.

Bahl mengaku pihaknya cukup dibuat kebingungan dengan adaya kasus tersebut yang terus muncul, pada 2018 lalu pihaknya menemukan bahwa wabah yang trejadi berhubungan dengan kelalawar.

Menurut Hindustan Times, Bahl beserta timnya masih belum menemukan bagaimana virus tersebut menular dari kelalawar ke manusia, relasi antara keduanya masih belum diketahui. Jelas Bahl pada Minggu (17/8).

Dirinya meneruskan bahwa kini pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait cara penularan virus, terlebih hal tersebut selalu berulang setiap musim hujan datang.

“Laporan terkait kasus nipah selalu terjadi tatkala musim hujan” ungkap Bahl.

Untuk menangani penyebaran virus nipah, India akan melakulan pembelian sebanyak 20 dosis antibodi dari Australia.

Bahl menyebut bahwa pada 2018 India mendapatkan beberapa dosis antibodi dari negara yang memiliki julukan negara kangguru itu. Namun untuk sekarang, hanya tersisa untuk 10 pasien.

“Saat ini, kami sedang mengusahakan 20 dosis tamabahan, tetapi perlu diberikan pada tahap awal infeksi. Sejauh ini, telah ada uji coba fase 1 untuk memeriksa keamanan obat di luar negeri, sementara uji efikasi belum dilakukan.” Ujar Bahl

Oleh karena itu, obat tersebut hanya akan dipergunakan khusus dalam keadaaan darurat saja.

EditorNuryanti

Bagikan

Komentar

Artikel Terkait
- Advertisment -spot_img

Terbaru