Rabu, Juli 24, 2024
spot_img

Respons Industri Otomotif Terhadap Program Biodiesel B40 yang Akan Diterapkan pada 2025

Nasional, Lokacita: Tiga pelaku industri otomotif memberikan tanggapan mengenai program Biodiesel B40 yang direncanakan untuk diterapkan pada tahun 2025. Kebijakan ini akan mengombinasikan solar dengan 40% bahan bakar nabati (BBN) berbasis minyak sawit.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, menekankan pentingnya distribusi B40 yang merata hingga ke pelosok Indonesia.

Jongkie melanjutkan, industri otomotif memerlukan waktu yang cukup untuk menyesuaikan mesin dengan spesifikasi B40.

“Target untuk beralih ke B40 baik-baik saja, tapi pemerintah harus memberikan waktu bagi produsen agar bisa menyiapkan mesin-mesin yang bisa menggunakan B40” ujar Jongkie pada Kamis (23/5).

Sementara itu, PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) menyoroti distribusi bahan bakar biodiesel dengan campuran nabati 35% atau B35 masih menghadapi kendala.

Business Operation & Strategy Division Head IAMI, Attias Asril, mengatakan bahwa kualitas distribusi B35 belum merata, terutama dalam hal kadar air dan kontaminasi.

“Bahan bakar murni maupun biosolar jika kualitasnya bisa terjaga maka akan sama-sama baik, khususnya pada distribusinya,” kata Attias.

Attias juga menyebutkan bahwa biodiesel memiliki masa kadaluwarsa yang relatif singkat dan cenderung menyerap air, yang bisa menyebabkan karat pada komponen mesin.

Disisilain, Chief Operating Officer Hino Motors Sales Indonesia, Santiko Wardoyo, mengungkapkan bahwa bahan bakar B35 memiliki kandungan air yang tinggi dan lubrikasi yang buruk, yang bisa menyebabkan korosi dan mempercepat keausan mesin.

“Kondisi-kondisi negatif ini akan semakin diperburuk apalagi kalau konten biodiesel semakin tinggi misalnya 35% menjadi 40% bahkan sampai 50%,” kata Santiko.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan program Biodiesel B40 dapat dieksekusi pada 2025.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa implementasi B40 akan mempertimbangkan kemampuan dana insentif biodiesel serta pasokan bahan baku minyak sawit mentah (CPO).

Pada tahap pertama, penerapan B40 akan difokuskan pada industri otomotif. Namun, pemerintah masih perlu memastikan insentif dan pasokan CPO yang memadai.

“Kami telah melaksanakan program biodiesel 35% sebagai persentase tertinggi bauran biofuel di sektor transportasi. Kami berencana untuk meningkatkannya menjadi 40%, mungkin tahun ini atau tahun depan,” ujar Eniya dalam acara Jakarta Futures Forum di Jakarta pada Jumat (3/5).

Penerapan program ini diharapkan dapat meningkatkan penggunaan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, meskipun tantangan distribusi dan kualitas biodiesel masih perlu diatasi.

EditorHilmi

Bagikan

Komentar

Artikel Terkait
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Terbaru